Death (Kematian)

By Kahlil Gibran

Then Almitra spoke, saying, “We would ask now of Death.” And he said:

You would know the secret of death. But how shall you find it unless you seek it in the heart of life? The owl whose night-bound eyes are blind unto the day cannot unveil the mystery of light. If you would indeed behold the spirit of death, open your heart wide unto the body of life. For life and death are one, even as the river and the sea are one. In the depth of your hopes and desires lies your silent knowledge of the beyond; And like seeds dreaming beneath the snow your heart dreams of spring. Trust the dreams, for in them is hidden the gate to eternity. Your fear of death is but the trembling of the shepherd when he stands before the king whose hand is to be laid upon him in honor. Is the sheered not joyful beneath his trembling, that he shall wear the mark of the king? Yet is he not more mindful of his trembling? For what is it to die but to stand naked in the wind and to melt into the sun? And what is to cease breathing, but to free the breath from its restless tides, that it may rise and expand and seek God unencumbered? Only when you drink form the river of silence shall you indeed sing. And when you have reached the mountain top, then you shall begin to climb. And when the earth shall claim your limbs, then shall you truly dance.

::Kahlil Gibran, born in Lebanon, was a poet, philosopher, and artist. His poetry has been translated into more than twenty languages and his drawings and paintings have been exhibited in the great capitals of the world. He lived in the United States, which he made his home during the last twenty years of his life::

16 Responses to “Death (Kematian)”

  1. I started to think that death is a process…

  2. mati itu konon kehidupan yang sebenarnya. hidup yang tak tersentuh kematian lagi. :)

  3. no ahter cois …. :(

  4. hui… salam kenal bos!

  5. Death..? Still a mystery till now… May it be a new beginning or the end or… W’ll find out some day…

  6. arif_che(wardoyo) Says:

    Orang tua jawa bilang pada kita yang masih hidup, dalam menghadapi kematian adalah sudah dan belum. semua tak dapat luput dari kuasaNYA. semua pasti akan merasakan. dan Khalil Gibran pun juga berkata itu adalah suatu pemberkataan yang agung.
    mengerti tentang arti kematian seperti mengerti tentang hidup kita. tapi kita jarang mengerti tentang hidup kita. kita sering memaknai hidup hanya dari segi kesenangan dan kebahagian. sebuah kematian dipandang adalah duka dan kesediahan. tat kala kita mengerti itu adalah proses dan alur hidup, maka aku yakinkita kan lebih bijak menghadapi.
    kita yang telah di pilih kehidupan untuk hidup, dan dalam kehidupan kita dikirim bersama raga yang retas. dan selanjutnya kita berhadapan dengan kematian untuk menuju kehidupan lagi…. “aku hanya orang yang percaya kematian adalah salah satu tangan yang paling adil dalam pengadilan kehidupan, maka jika kita merasa benar dan jujur maka kita tak perlu takut pada kematian”.

  7. u r a Sufi urself Mama! brilliant writings.Love every single sentense on this blog.I can understand u more now.

  8. Death is a choice. Kalo orang2 yang pernah mati ditanya, maka mereka bisa menjawab bahwa setelah menjalani berbagai kisah kehidupan, akhirnya mereka memilih yg mereka belum pernah jalani sebelumnya, yaitu mengalami MATI sebagai pilihan terakhir.

  9. Banyak orang menganggap bahwa kematian ada di tangan Tuhan. Percayakah engkau bahwa kematian adalah pilihan manusia yang dikabulkan Tuhan? Mengapa kita tidak mulai belajar bahwa Tuhan yang Absolut MAHA BAIK, Maha Mengiyakan, MAHA MENGABULKAN, hanya selalu berkata “YA, KUKABULKAN apa yang kau inginkan” ? Percayakah engkau bahwa Tuhan adalah Maha Pengabul? Percayakah engkau Tuhan selalu berkata “YES” pada setiap pilihan manusia? Mati adalah salah satu pilihan dari berjuta-juta pilihan yang bisa dipilih manusia. Manusia dikaruniai kuasa untuk memutuskan pilihan sejak diciptakan. Pilihan bebas, FREE WILL adalah hakekat dan hak asasi sejak manusia diciptakan. Ketika manusia memlilih MATI, Tuhan pun secara konsisten mengabulkan “YES, Ku-kabulkan keinginanmu untuk mengalami mati.”

  10. Om Dudi Says:

    Mengingat Mati

    Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya. Karena Ar-Rahman telah berfirman:

    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

    “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati, dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan.” (Al-Anbiya`: 35)

    أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

    “Di mana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (An-Nisa`: 78)

    Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang shalih atau durhaka, seorang yang turun ke medan perang ataupun duduk diam di rumahnya, seorang yang menginginkan negeri akhirat yang kekal ataupun ingin dunia yang fana, seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Semuanya akan menemui kematian bila telah sampai ajalnya, karena memang:

    كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ

    “Seluruh yang ada di atas bumi ini fana (tidak kekal).” (Ar-Rahman: 26)

    Mengingat mati akan melembutkan hati dan menghancurkan ketamakan terhadap dunia. Karenanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat untuk banyak mengingatnya. Beliau bersabda dalam hadits yang disampaikan lewat shahabatnya yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

    أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذمِ اللَّذَّاتِ

    “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa`i no. 1824, Ibnu Majah no. 4258. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata tentang hadits ini, “Hasan shahih.”)

    Dalam hadits di atas ada beberapa faedah:

    - Disunnahkannya setiap muslim yang sehat ataupun yang sedang sakit untuk mengingat mati dengan hati dan lisannya, serta memperbanyak mengingatnya hingga seakan-akan kematian di depan matanya. Karena dengannya akan menghalangi dan menghentikan seseorang dari berbuat maksiat serta dapat mendorong untuk beramal ketaatan.

    - Mengingat mati di kala dalam kesempitan akan melapangkan hati seorang hamba. Sebaliknya, ketika dalam kesenangan hidup, ia tidak akan lupa diri dan mabuk kepayang. Dengan begitu ia selalu dalam keadaan bersiap untuk “pergi.” (Bahjatun Nazhirin, 1/634)

    Ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah ucapan yang singkat dan ringkas, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (kematian).” Namun padanya terkumpul peringatan dan sangat mengena sebagai nasihat, karena orang yang benar-benar mengingat mati akan merasa tiada berartinya kelezatan dunia yang sedang dihadapinya, sehingga menghalanginya untuk berangan-angan meraih dunia di masa mendatang. Sebaliknya, ia akan bersikap zuhud terhadap dunia. Namun bagi jiwa-jiwa yang keruh dan hati-hati yang lalai, perlu mendapatkan nasihat panjang lebar dan kata-kata yang panjang, walaupun sebenarnya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

    “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian).”
    disertai firman Allah k:

    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

    “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati,” sudah mencukupi bagi orang yang mendengar dan melihat.

    Alangkah bagusnya ucapan orang yang berkata:

    اذْكُرِ الْمَوْتَ تَجِدُ رَاحَةً، فِي إِذْكَارِ الْمَوْتِ تَقْصِيْرُ اْلأَمَلِ

    “Ingatlah mati niscaya kau kan peroleh kelegaan, dengan mengingat mati akan pendeklah angan-angan.”

    Adalah Yazid Ar-Raqasyi rahimahullahu berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa gerangan yang akan menunaikan shalat untukmu setelah kematianmu? Siapakah yang mempuasakanmu setelah mati? Siapakah yang akan memintakan keridhaan Rabbmu untukmu setelah engkau mati?”

    Kemudian ia berkata, “Wahai sekalian manusia, tidakkah kalian menangis dan meratapi diri-diri kalian dalam hidup kalian yang masih tersisa? Duhai orang yang kematian mencarinya, yang kuburan akan menjadi rumahnya, yang tanah akan menjadi permadaninya dan yang ulat-ulat akan menjadi temannya… dalam keadaan ia menanti dibangkitkan pada hari kengerian yang besar. Bagaimanakah keadaan orang ini?” Kemudian Yazid menangis hingga jatuh pingsan. (At-Tadzkirah, hal. 8-9)

    Sungguh, hanya orang-orang cerdas cendikialah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati. Shahabat yang mulia, putra dari shahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’

    ‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:

    أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ

    “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)

    Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Ad-Daqqaq berkata, ‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan giat/semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara: menunda taubat, tidak ridha dengan perasaan cukup dan malas dalam beribadah. Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu, yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak akan merasa sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya. Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan menuntaskan angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan datangnya hari kematianmu dan perpindahanmu dari tempat hidupmu yang sekarang?” (At-Tadzkirah, hal. 9)

    Bayangkanlah saat-saat sakaratul maut mendatangimu. Ayah yang penuh cinta berdiri di sisimu. Ibu yang penuh kasih juga hadir. Demikian pula anak-anakmu yang besar maupun yang kecil. Semua ada di sekitarmu. Mereka memandangimu dengan pandangan kasih sayang dan penuh kasihan. Air mata mereka tak henti mengalir membasahi wajah-wajah mereka. Hati mereka pun berselimut duka. Mereka semua berharap dan berangan-angan, andai engkau bisa tetap tinggal bersama mereka. Namun alangkah jauh dan mustahil ada seorang makhluk yang dapat menambah umurmu atau mengembalikan ruhmu. Sesungguhnya Dzat yang memberi kehidupan kepadamu, Dia jugalah yang mencabut kehidupan tersebut. Milik-Nya lah apa yang Dia ambil dan apa yang Dia berikan. Dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan.

    Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”

    Adalah ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu bila mengingat mati ia gemetar seperti gemetarnya seekor burung. Ia mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan akan kematian, hari kiamat dan akhirat. Kemudian mereka menangis hingga seakan-akan di hadapan mereka ada jenazah. (At-Tadzkirah, hal. 9)

    Tentunya tangis mereka diikuti oleh amal shalih setelahnya, berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersegera kepada kebaikan. Beda halnya dengan keadaan kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka yakin adanya surga tapi tidak mau beramal untuk meraihnya. Mereka juga yakin adanya neraka tapi mereka tidak takut. Mereka tahu bahwa mereka akan mati, tapi mereka tidak mempersiapkan bekal. Ibarat ungkapan penyair:

    Aku tahu aku kan mati namun aku tak takut

    Hatiku keras bak sebongkah batu

    Aku mencari dunia seakan-akan hidupku kekal

    Seakan lupa kematian mengintai di belakang

    Padahal, ketika kematian telah datang, tak ada seorangpun yang dapat mengelak dan menundanya.

    فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

    “Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya.” (An-Nahl: 61)

    وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا

    “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila telah datang ajal/waktunya.” (Al-Munafiqun: 11)

    Wahai betapa meruginya seseorang yang berjalan menuju alam keabadian tanpa membawa bekal. Janganlah engkau, wahai jiwa, termasuk yang tak beruntung tersebut. Perhatikanlah peringatan Rabbmu:

    وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدْ

    “Dan hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18)

    Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menjelaskan ayat di atas dengan menyatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1388)

    Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu engkau berharap penangguhan.

    وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

    “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)

    Karenanya, berbekallah! Persiapkan amal shalih dan jauhi kedurhakaan kepada-Nya! Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

  11. APA ARTINYA HIDUP TAMPA KEMATIAN

  12. SAYA PIKIR DARI SISI MANA KITA MEMIKIRKAN MATI ITU..? KEDEKATAN PADA SANG PENCIPTA, ATAU KEDEKATAN KARENA PUTUS ASA, KEMATIAN ADALAH TEMAN TAMPA JARAK, KARENA KITA TAU SETIAP HEMBUSAN NAFAS ADALAH KEMATIAN, MASALAHNYA
    KEMATIAN APA YANG KITA INGINKAN…..?

    SEMOGA ALLOH MEMATIKAN KITA DALAM RIDONYA,,,,, AMIN

  13. syarra and karra Says:

    The Cow 2 : 210

    They do not wait aught but that Allah should come to them in the shadows of the clouds along with the angel and the matter has (already) been decided; and (all) matters are returned to Allah

    Syarrakara@yahoo.co.id

    add our FS …thanks all!!!

  14. То что бредомысли это точно :)
    Видно настиг творческий кризис. Мысле нет о чем писать :)

  15. Отлично написано. Позитива конечно не хватает, но читал на одном дыхании

  16. the death will be come to everyone… :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: