Archive for Pelita

20 Wisma Terbakar, 4 Tewas

Posted in Kematian with tags , , , , , , , , , , , , , on July 14, 2008 by forthesakeofneverendinglove

 

Senin, 14 Juli 2008|05:36:58WIB
Sembilan Kios dan Rumah Kos di Pelita Ikut Ludes

Kebakaran besar kembali melanda Batam. Setelah kebakaran di Barata Mall, Batam Centre, musibah sama juga menimpa kawasan Pelita. Sebanyak 29 bangunan, terdiri dari 20 unit wisma atau penginapan, dua kios, dan tujuh rumah kos-kosan di Komplek Pribumi RT 01 RW 01, Jalan Teuku Umar, Pelita ludes terbakar, Ahad (13/7) sekitar pukul 05.30 WIB.


Dalam kejadian ini, empat korban ditemukan tewas dengan kondisi hangus terpanggang. Dua di antara korban tewas tersebut, merupakan kakak beradik, yakni Hulman Tobing (24) dan Edy Tobing (22). Sedangkan dua korban tewas lainnya, satu wanita dan satu pria yang ditemukan dalam posisi saling menempel, hingga kemarin, belum berhasil diidentifikasi.


Satu orang korban lagi bernama Yanti (29), yang ditemukan terluka dan sekarat langsung dilarikan ke Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB), Seraya. Sekujur tubuh Yanti penuh luka bakar. Saat api berkobar, ia diketahui terjun dari lantai dua Wisma Anugerah, salah satu penginapan di sana.


Sejumlah penginapan yang hangus dilalap api hingga rata dengan tanah itu, di antaranya Kota Sima, Minang Jaya, Enggal Jaya, Purnama, Mutiara, Idaman, Budiman I, Budiman II, Panda Lima, Sawerigading I, Sawerigading II, Anugerah, Anda, Dagadu, Pelita Jaya, Mitra, Emes Jaya, Srikandi, Theresia, Kusuma Jaya, dan dua unit kios.


Informasi yang dihimpun Batam Pos dari sejumlah saksi dan pihak kepolisian, api diduga kuat berasal dari kamar 06 lantai dua Wisma  Idaman milik Intang. Ada beberapa versi penyebab kebakaran yang dipaparkan warga.


Pemilik Wisma Mutiara dan kedai di kawasan itu, Malika menduga akibat rokok atau obat nyamuk yang menyala. Sementara Fani, karyawan Wisma Koto Lima menduga akibat kompor.


“Apinya dari Idaman,” kata Ricky, salah seorang saksi mata yang menginap di Wisma Pelita Jaya, yang ditemui di lokasi kejadian, kemarin.


Menurut Ricky api begitu cepat membesar dan menjalar ke penginapan lainnya yang sebagian besar terbuat dari papan kayu.


Keterangan Ricky sama dengan Syamsuddin, pria yang bertugas menjaga Penginapan Idaman. “Saat hitung uang, tiba-tiba dengar suara teriakan. Setelah itu saya berusaha padamkan api, tapi tak berhasil. Api terus menjalar ke penginapan lainnya,” katanya saat memberikan keterangan di Unit I Sat Reskrim Poltabes Barelang, kemarin.


Kobaran api ini membuat seluruh penghuni penginapan, kios, dan rumah kos-kosan yang kebanyakan baru terlelap tidur terbangun dan berhamburan keluar menyelamatkan diri.


“Dengar teriakan kebakaran, saya langsung keluar kamar,” kata Nina, salah seorang penghuni rumah kos-kosan yang letaknya ada di ketinggian, di atas penginapan.


Nina mengatakan, saat mendengar teriakan itu, rumah kos-kosan yang dihuninya belum terbakar. Api, kata dia, terlebih dahulu membakar penginapan lalu menjalar ke atas, tempat kos-kosannya.


Sementara Fanny yang berada di Wisma Koto Lima menuturkan ia pagi itu baru saja bangun dan hendak mandi. Ia kemudian mendengar suara kletek-kletek dan genteng yang jatuh.


“Saya keluar dan melihat orang berlompatan dari atap menyelamatkan diri,” kata wanita yang hanya menyelamatkan beberapa potong baju ini.


Aldi lain lagi. Saat kejadian ia tertidur sehingga tidak bisa menyelamatkan barang. Pemuda yang indekos di kawasan itu memilih menyelamatkan seorang bayi dan penghuni kos lainnya yang masih tidur. Ia membangunkan dan menyelamatkan penghuni lain meski api sudah berkobar. Akibatnya ia sempat juga terbakar pada bagian pundak.


“Saya kira masih ada orang lain di dalam jadi saya masuk lagi. Pas di dalam api mengepung saya. Dari pada saya mati terpanggang saya nekad terobos keluar,” katanya.


Cepatnya kobaran api membuat para penghuni penginapan dan kos-kosan panik dan tak sempat menyelamatkan harta bendanya.


Menurut warga sekitar, korban yang hangus dilalap api, yakni kakak beradik Hulman Tobing dan Edy Tobing ditemukan di Penginapan Emes Jaya. Sedangkan dua korban lagi yang tewas berpelukan ditemukan di Penginapan Anugerah.


Kebakaran itu menjadi tontonan warga. Mereka menyemut di jalan Teuku Umar sehingga menutup akses jalan tersebut. Polisi yang datang lokasi kejadian terpaksa menutup jalan Teuku Umar dan mengalihkan kendaraan ke jalan lainnya.


Api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 06.30 WIB. Ini setelah Petugas Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PBK) Otorita Batam (OB) tiba di lokasi dan langsung mengendalikan situasi. Sedikitnya lima unit mobil PBK dikerahkan untuk menjinakkan kobaran api. Petugas PBK ini, masih terlihat di lokasi sampai siang hari.Kerugian Belum Diketahui

 


Kerugian akibat kebakaran yang terjadi mulai sekitar pukul 06.30 WIB itu belum bisa dipastikan. Baik pemilik atau pengelola wisma, polisi, maupun aparat RT dan Kecamatan belum bisa menghitungnya. Namun beberapa pengelola wisma menaksir mencapai ratusan juta hingga miliaran.


“Kerugian belum bisa dipastikan. Barang-barang satu pun tidak bisa saya selamatkan, yang penting diri sendiri dulu yang diselamatkan, ” ujar Ginding, pengelola Wisma Pelita Jaya yang turut terbakar di lokasi kejadian, kemarin.
Namun Ginding mengatakan ia menyewa wisma itu dari pemiliknya Rp21 juta per tahun.


Malika yang mengelola tiga wisma sekaligus rumah kos juga belum bisa menghitung jumlah kerugian yang diderita. Namun ia menaksir kerugiannya yang ditanggungnya puluhan juta.


“Jualan di kedai saja sudah sepuluhan juta. Lalu penginapan dan kos tiga,” ungkap wanita ini yang tampak masih syok dengan kejadian itu.


Sedangkan Andi Ibrahim, pemilik tiga penginapan dan dua kios di sana mengaku menderita kerugian puluhan juta rupiah. Penginapan tersebut, yakni Anda, Idaman, dan Sawerigading I dan II. “Itu saya bangun tahun 1981 dulu,” katanya.


Hingga kemarin, polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran. “Penyebab kebakaran masih diselidiki melalui Puslabfor,” kata Kapoltabes Barelang Kombes Slamet Riyanto di Mapoltabes Barelang, kemarin.


Ia mengatakan, untuk memastikan penyebab kebakaran, pihaknya juga akan mendatangkan tim Forensik dari Mabes Polri. “Menurut saksi, api bersumber dari Penginapan Idaman lantai dua,” kata Slamet Riyanto yang mengaku belum bisa memastikan jumlah kerugian akibat kebakaran tersebut.


Kasat Reskrim Poltabes Barelang Kompol Herry Heryawan menambahkan, akibat kebakaran tersebut ada 20 penginapan yang hangus, dua kios dan tujuh rumah kos-kosan.


Dari hasil pemeriksaan sejumlah saksi, lanjut Herry, api diduga kuat berasal dari kamar 06 lantai dua di Penginapan Idaman. “Kita tunggu Labfor,” katanya. ***

Kakak Beradik Susah Dikenali


Empat korban kebakaran di Pelita yang tewas terpanggang dibawa ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) untuk divisum, kemarin. Sayang, anggota keluarga yang datang tak bisa mengenali korban.


Nelpi Tobing, ayah dua korban yang tewas terpanggang, Hulman dan Edy langsung menangis saat turun dari metrotrans yang disambut sejumlah keluarganya di depan kamar jenazah RSOB, Sekupang. Ia dibawa ke kamar jenazah, tapi belum diizinkan masuk karena dokter sedang melakukan visum.


“Edy sudah saya bilang jangan tidur di sana. Tapi ia tidur juga di tempat kakaknya. Beginilah jadinya,” ujar Nelpi yang ditenangkan dua orang saudaranya.


Hulman, anaknya yang besar bekerja di tempat biliar. Ia belum menikah. Sedangkan, Edy datang ke tempat kakaknya bekerja untuk jalan-jalan karena diajak Hulman. Nyatanya, hidup Edy harus berakhir dengan cara tragis terpanggang api bersama kakaknya.


Begitu dr Novi dari Poltabes Barelang selesai melakukan visum, Nelpi Tobing diajak masuk melihat dua korban yang terpanggang. Nelpi diminta mengenali apakah kedua tubuh yang sudah gosong itu anaknya atau bukan. Novi memperlihatkan gigi korban. “Susah dikenali. Gigi anak saya masih utuh,” ujarnya.


Anggota Identifikasi Poltabes Barelang kemudian menunjukkan jam tangan dan handphone yang sudah rusak akibat terbakar. Nelpi membantah jam dan handphone itu milik anaknya. Novi dan Tim Indentifikasi pun yakin dua korban ini bukan Hulman dan Edy. Kemungkinan dua korban lain yang kondisinya lebih parah yang merupakan anak korban.


Tim Identifikasi kemudian meminta Nelpi Tobing dan anggota keluarga lain agar ikut lagi ke tempat kejadian perkara. Tujuannya agar orang tua korban bisa menunjukkan dimana biasanya Hulman tidur.“Yang Sabar Pak Ya. Ini Cobaan”

 


Sore harinya, Wali Kota Ahmad Dahlan dan isterinya Mariana Dahlan mengunjungi lokasi dan korban kebakaran. Di sana, Dahlan sempat berbincang-bincang dengan para korban di lokasi kebakaran dan di posko yang didirikan di Kampung Utama, tak jauh dari lokasi kebakaran.


Menurut Dahlan, selama tiga hari Pemko akan menjamin makan dan minum serta tempat tinggal sementara para korban kebakaran itu. Seragam sekolah anak-anak korban kebakaran juga akan diganti Pemko Batam. “Makan minum kita tanggung. Untuk sementara selama tiga hari dulu, nanti kita lihat seperti apa perkembangannya,” katanya.


Untuk surat-surat para korban yang hangus terbakar, seperti KTP, akte kelahiran dan surat-surat lain yang dikeluarkan Pemko, Dahlan juga memberi jaminan. “Selama ada bukti atau saksi bahwa ia benar warga Batam, kita ganti,” tuturnya.


Saat menengok puing-puing penginapan di Pelita itu, Dahlan didatangi Nelpi Tobing, orang tua korban tewas Hulman dan Edi Tobing. Nelpi menangis di depan Dahlan. “Yang Sabar Pak ya. Ini cobaan,” kata Dahlan.
Dari lokasi kebakaran, Dahlan mengunjungi posko. Di sana, Pemko dan Departemen Sosial membuat penampungan sementara. Korban kebakaran ditempatkan di bawah sebuah rumah toko yang di sisi-sisinya terbuka. Ada sejumlah tempat tidur dan kamar mandi di sana.


Ada sejumlah ibu-ibu yang tidur-tiduran di Posko. Salah satunya adalah Nurmailis (60-an), nenek dari Padang yang di Batam bekerja sebagai peminta-minta, namun sudah tiga bulan ini indekos di salah satu penginapan di Pelita. Ia menjadi korban kebakaran karena kamarnya ludes terbakar.


Dalam kunjungannya itu, Dahlan menemukan banyaknya pendatang yang menginap atau indekos bertahun-tahun di penginapan-penginapan Pelita, tapi tak pernah mendaftarkan diri mereka di RT/RW. “Karena itu, saya berharap bagi pendatang yang sudah 2 kali 24 jam di Batam melapor ke RT/RW-nya, untuk memudahkan pendataan,” katanya.
Dari catatan tim Posko Kebakaran Pelita, untuk sementara ada 86 keluarga atau 150 jiwa yang menjadi korban. Sementara penginapan yang melaporkan diri sebagai korban ada sebelas penginapan.


Selain dari Pemko Batam, kemarin, bantuan untuk korban kebakaran terus mengalir. Sampai sore kemarin, bantuan yang masuk berupa uang sebanyak Rp1.670.000 dan 100 Ringgit Malaysia. Lalu, ada bantuan berupa baju layak pakai dan lainnya. Tak Sempat Selamatkan Harta

 


Pantauan Batam Pos di posko penampungan, terlihat sejumlah korban duduk lesu. Mereka banyak yang tak bisa menyelamatkan hartanya. “Yang selamat cuma baju yang saya pakai,” kata Nina, penghuni rumah kos-kosan yang ikut hangus dilalap si jago merah.


Kemarin, karyawati Sat Nusa Persada ini beberapa kali melihat-lihat beberapa lembar uang miliknya dalam pecahan Rp50 ribu, Rp20 ribu, dan Rp10 ribu yang berhasil ia selamatkan. Namun, setengah lembaran uang tersebut sudah dilalap api.


Sementara itu, menurut petugas di posko penampungan, hingga siang kemarin, tercatat sedikitnya 60 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 120 orang yang mengungsi di sana. Beberapa di antaranya berusia balita, bahkan ada yang masih bayi. Mereka adalah, Adi (4), Daihan (2,8), Jangga (3), Risin (2 bulan), Pungki (4), Juwita (5), Faris (3 bulan), Andi Malasari (3), Daira (2,5). “Syukurlah, mereka lolos dari maut,” kata beberapa warga di penampungan. Hingga sore kemarin, sejumlah warga berdatangan mengulurkan bantuannya. (med/why/uma)

Batam Pos
News Page
Front Page
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.