Mahasiswi Stienas Tewas Terpanggang di Depan Pintu

 

Minggu, 13-07-2008 | 01:50:25
BANJARMASIN – Musibah kebakaran yang terjadi di Gg Nusa Indah RT6 Jl S Parman, Banjarmasin Barat, Sabtu (12/7) sekitar pukul 02.00 Wita, meminta korban jiwa. Seorang mahasiswi Stienas, Kendani Tansil (25), tewas terpanggang di depan pintu.

Drama terpanggangnya Kendani sangat menegangkan sekaligus mengharukan. Sang ibu, Ny Susanti (58), tanpa mempedulikan lagi keselamatan jiwa terus berusaha membuka terali besi (teralis), yang menghalangi pintu depan rumahnya. “Anakku di dalam.Anakku di dalam,” teriak Ny Susanti. Kendati sudah berusaha keras, teralis yang terkunci gembok tersebut tidak juga terbuka. Sementara api terus membesar dan melumat seluruh isi rumah milik Ny Susanti.

Gilanya, api yang membesar itu tidak dipedulikan lagi oleh Ny Susanti. Kendati tubuhnya sudah dijilati api, dia tetap berusaha membuka tralis besi tersebut.

Perjuangan Ny Susanti ini mengejutkan petugas pemadam, yang sedang berjibaku menguasai api. Bersama Ny Susanti, mereka berusaha keras membuka pintu teralis tersebut. Namun malang, belum sempat membuka teralis yang tergembok tersebut, terdengar ledakan keras dari dalam rumah.

Ledakan, yang diduga berasal dari kendaraan yang diparkir di dalam rumah, itu langsung membuat nyala api semakin besar dan kaca jendela rumah tersebut pecah berhamburan.

Pemadam dan petugas pun beringsut mundur. Apalagi, api semakin menjadi-jadi dari dalam rumah. Petugas terpaksa menarik Ny Susanti yang terus berteriak-teriak histeris dan meronta-ronta berusaha menyelamatkan anaknya.

“Selamatkan anakku. Selamatkan anakku. Selamatkan anakku,” teriak Ny Susanti yang berusaha dibawa menjauh dari rumahnya.

Teriakan Ny Susanti terhenti ketika ibu dua anak ini pingsan. Bersamaan dengan itu, pemadam dan warga akhirnya hanya dapat menyaksikan Kendani tewas, tepat di depan pintu keluar.

Mahasiswi semester akhir di Stienas ini tewas terpanggang dalam posisi mencengkeram teralis rumahnya.

“Setelah menolong ibu korban, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kami tidak bisa lagi menolong korban karena api sudah sangat besar,” ujar M Rafii, salah satu anggota BPK Belmas Kodim 1007.

Dini hari itu juga, korban yang kondisinya sudah memprihatinkan ini kemudian dievakuasi ke ruang jenazah RSUD Ulin Banjarmasin. Siang harinya, jenazah Kedani disemayamkan ke Mulia Sejahtera.

Belum diketahui apakah jenazah akan dikebumikan di Banjarmasin atau di tempat keluarganya di Jawa Timur.

Sementara Ny Susanti yang sempat dilarikan ke RS Islam, kemudian dirujuk ke RS Suaka Insan, hingga kemarin masih terus menjalani perawatan. Ny Susanti menderita luka pada punggung, lengan dan pipi kanan akibat jilatan api dan terkena pecahan kaca.

Lampu Padam
Musibah kebarakan yang menelan korban jiwa ini berawal ketika malam itu listrik di kawasan tersebut nyala. Bersamaan dengan nyala listrik, tiba-tiba api juga menyala dari rumah Ny Susanti.

Ny Susanti, yang baru tiga hari datang dari Jawa, langsung berlari keluar melalui pintu belakang. Namun malang, anaknya Kendani yang kamarnya berada di depan gagal menyelamatkan diri.

Diduga api berasal dari bagian belakang rumahnya. Saat api membesar, Kendani memilih berlari ke depan dan berusaha keluar dari pintu muka.

Naas, upaya Kendani untuk keluar terhalang teralis yang tergembok. Akibatnya Kendani terjebak di dalam rumahnya dan kemudian tewas terpanggang api.

Dalam musibah ini, selain satu korban meninggal dan satu korban luka bakar, tercatat tiga rumah ludes menjadi arang. Selain rumah Ny Susanti, dua rumah lain yaitu milik Junaidi dan rumah Lince Nahan, di Gang S Parman II, RT6, RW3, tepat di belakang rumah Ny Susanti.

Dari keterangan Ketua RT 6, Bedward Jata, akibat kebakaran ini 10 kepala keluarga yang terdiri dari 30 jiwa kehilangan tempat berteduh. “Kebetulan dua rumah lain dijadikan semacam bedakan dan disewakan, jadi penghuninya cukup banyak,” jelasnya.

Mengenai latar belakang keluarga korban dijelaskan Bedward, Ny Susanti memiliki dua orang anak yaitu Kendani Tansil dan Paulus. Saat kejadian Paulus tidak berada di rumah karena sedang menempuh kuliah di Malang, Jawa Timur.

Sepeninggal suaminya, Ny Susanti berusaha dengan berjualan konveksi sehingga sering pergi ke Jawa dan rumah dihuni Kendani. Sedangkan Kendani, karena kesibukan kuliah yang sudah menginjak semester akhir, lebih banyak di dalam rumah.

“Meski jarang keluar rumah, tapi orangnya kita kenal baik dan ramah,” tambahnya. Pantauan Metro Banjar, Ny Susanti masih menjalani perawatan intensif di salah satu ruang Monica RS Suaka Insan Banjarmasin lantaran luka bakar yang dideritanya cukup parah.

Para wartawan tidak diperkenankan menemui Ny Susanti karena dikhawatirkan Ny Susanti akan mengalami syok, apalagi saat itu dia belum mengetahui kalau putrinya telah meninggal. (htw/ncl)

 

 

Banjarmasin Post
News Page
Front Page

One Response to “Mahasiswi Stienas Tewas Terpanggang di Depan Pintu”

  1. baru liat tulisan ini,, hm.. aq kenal ma Kendani n ibu, pernah ketemu sekali..
    sehari sesudah Kendani dimakamkan,
    ibunya Kendani juga meninggal dalam damai, waktu msh dalam keadaan luka bakar, dia sama sekali tidak mengeluh kesakitan, malah msh bisa bercanda sama sahabatnya, itu yg saya dengar..
    dan beliau juga sudah tau kalau anaknya sudah meninggal, dia cuma meneteskan air mata.. tak lama berselang, beliaupun menyusul Kendani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: