Warga Kaget karena Ryan Dikenal Pria Pendiam

Selasa, 22 Juli 2008 | 02:33 WIB

Kasus kejahatan mutilasi yang dilakukan tersangka Very Idam Henyansyah (sesuai KK di desa asalnya) alias Ryan (30) mengagetkan komunitas Ryan di Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ryan yang lahir di Jombang, 1 Februari 1978, dikenal para ibu di desa itu sebagai guru mengaji di TPQ di Desa Jatiwates.

Suharti (34) yang Minggu (20/7) malam ditemui di belakang rumah orangtua Ryan mengaku kaget dengan apa yang terjadi. Selama sepuluh tahun menjadi guru mengaji, Ryan kerap kali jadi penggiat berbagai lomba yang bernuansa keagamaan di desa itu. Di kampungnya, Ryan tenar dengan nama Yansyah.

Nama itu diambilkan dari nama belakangnya, Henyansyah. Sepanjang ingatan warga, Yansyah adalah sosok pemuda yang gemar merias anak-anak asuhannya. Yansyah juga suka melatih anak-anak muridnya menari dengan gerakannya yang gemulai.

“Ya, memang gayanya Yansyah kemayu. Gaya jalan, gaya ngomong-nya lembut dan kalem,” kata Zainal (38) yang putranya (umur 10 tahun) menjadi murid Yansyah.

Tarubi (55), seorang tetangga Yansyah, mengatakan sosok tersangka pelaku mutilasi itu sebagai orang yang pendiam. Namun kemudian, kata Tarubi, Yansyah dan keluarganya memiliki tabiat yang tidak disukai warga desa. Akibat perilaku itulah akhirnya warga desa tersebut mengucilkannya.

Yansyah pun berubah menjadi penyendiri, pendiam, dan jarang bertegur sapa dengan para tetangga. Perubahan terjadi ketika Yansyah mulai menginjak usia 20 tahun. Sejak saat itu Yansyah mulai aktif sebagai instruktur senam dan pegawai salon di Surabaya, sebelum akhirnya merantau ke Jakarta.

Salah seorang kerabat Yansyah, Solikan (38), mengakui bahwa Yansyah sudah menunjukkan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan rekan-rekan sebayanya ketika usianya mulai dewasa. “Laki-laki, tetapi suka merias,” kata Solikan.

Pada sebagian besar keluarga, teman, dan tetangganya, Yansyah mengaku belum pernah menikah. Namun, menurut seorang tokoh masyarakat bernama A Rohman, yang merupakan imam di masjid desa, lelaki itu mengaku pernah menikah.

“Yansyah mengaku pernah menikah kepada saya. Ia menunjukkan foto (istrinya) itu,” kata A Rohman.

Menusuk korban

Terlepas dari kasus Ryan, korban kejahatan oleh pelaku homoseksual saat ditemukan kondisinya sering kali mengerikan. Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan Polda Metro Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran mengatakan, korban pembunuhan oleh pelaku kejahatan yang memiliki kecenderungan homoseksual biasanya ditikam sekurangnya 10 tusukan.

“Korban tewas Heri Santoso (40), misalnya, ditikam tersangka Ryan dengan sebelas kali tikaman. Kondisi korban yang menyedihkan juga menimpa anak korban sodomi yang pernah saya tangani. Tersangka, tega menikam korbannya yang masih kecil dengan 10 kali tikaman, hanya karena si anak yang sudah lama disodomi, hari itu menolak ajakannya,” papar Fadhil.

“Crime of passion”

Prof Dr Marjono Reksodipuro, mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), yang dihubungi Kamis (17/7), mengatakan, basis kejahatan masyarakat heteroseksual lebih beragam dan motifnya pun bermacam-macam.

Itulah sebabnya, persentase rangkaian kejahatan keji yang dilakukan masyarakat heteroseksual lebih kecil dibandingkan dengan total kejahatan dari kelompok ini.

Kejahatan homoseksual yang muncul ke publik hanya rangkaian kejahatan yang nyaris melulu menyangkut pasangan seks. “Kejahatan itu dilakukan hanya sebatas menyangkut persoalan pasangan seks,” ujar Marjono.

Dalam dunia kejahatan ada istilah crime of passion, yakni ledakan kemarahan yang membabi buta karena merasa terhina dan cemburu, yang membuat pelaku membunuh atau menganiaya berat.

“Biasanya berlangsung secara spontan, tidak terorganisir, dan tidak terencana. Oleh karena itu, para pelaku umumnya terjerat Pasal 338 atau 339 KUHAP,” tambah kriminolog UI, Prof Dr Adrianus Meliala, yang dihubungi terpisah.

Pada kaum homoseksual, lanjut kriminolog UI Prof Dr Ronny Niti Baskoro, crime of passion bisa dipicu unsur lain, yaitu unsur ketakutan kehilangan peran karena pasangannya terancam hilang.

Guru besar Fakultas Psikologi UI Prof Dr Sarlito Wirawan, Adrianus, dan Marjono mengakui, rendahnya populasi kaum homoseksual menyebabkan kalangan ini mudah mengalami distres, mudah panik. Crime of passion di antara para homoseksual terjadi lebih keras karena berlangsung di antara para pria.

Menurut mereka, asmara yang tumbuh di antara mereka adalah cinta platonis, mencinta untuk menguasai. Apabila terjadi perselisihan di antara mereka penyelesaiannya adalah sama-sama hilang.

Dengan kata lain, dalam kasus-kasus perebutan, perselingkuhan, dan pertengkaran asmara, kaum homoseks umumnya berprinsip, “Kalau saya tidak dapat, maka kamu pun tidak akan mendapatkan dia. Interaksi berlangsung agresif saling menghancurkan,” ungkap Sarlito.(Ingki Rinaldi/Windoro adi/Iwan Satosa)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/22/0233114/warga.kaget.karena.ryan.dikenal.pria.pendiam


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: