156 Warga Lembah Kamuu Dogiyai Meninggal

Senin, 28 Juli 2008 | 12:58 WIB

Laporan Wartawan Kompas Ichwan Susanto

JAYAPURA, SENIN – Belum seumur jagung diresmikan, Pemkab Dogiyai sudah dihadapkan pada wabah penyakit yang melanda daerahnya. Data yang dirilis Biro Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Kemah Injili Gereja Masehi Indonesia dan Sinode Gereja Kristen Injili, serta Serikat Keadilan Perdamaian Keuskupan Jayapura dan Timika memperlihatkan sejak 6 April 2008, 156 warga Lembah Kamuu Dogiyai mati yang penyebabnya diduga adalah kolera dan muntaber.

Rilis ini disampaikan Ketua Biro KPKC KINGMI Papua Pendeta Benny Giay, Ketua Biro KPCK Sinode GKI Pendeta Dora Balubun, Direktur SKP Keuskupan Jayapura Br J Budi Hermawan, OFM, dan Direktur SKP Keusku pan Timika Fr Saul Wanimbo, Pr, Senin (28/7), di Jalan Kesehatan Dok II Keuskupan Jayapura Provinsi Papua.

Budi Herm awan mengatakan wabah telah menyebar di 17 kampung dan dua distrik di Lembah Kamuu serta dua kampung di satu distrik di Paniai. Lembah Kamu kini masuk dalam Kabupaten Dogiay yang pada awal Juli lalu diresmikan pemekarannya dari Kabupaten Nabire oleh Menda gri Mardiyanto.  

“Wilayah penyebaran tidak lagi terbatas di Kamuu melainkan sudah mencapai Paniai. Bila tidak diatasi kemungkinan dapat menyebar ke wilayah-wilayah terdekat lainnya,” ujar Benny Giay.

Pimpinan agama ini menyayangkan Pemkab Nabire (selaku induk) dan Pemprov Papua belum mengambil tindakan nyata untuk mengambil tindakan nyata. Hal ini memicu kecurigaan masyarakat akan unsur kesengajaan pembiaran masyarakat asli setempat mati.

Menurut Budi Hermawan, gereja telah melakukan penanganan medis dengan menerjunkan Tim Medis Yayasan Caritas Timika. Namun tindakan mereka terbatas kamampuan personel dan biaya sehingga belum menjawab kebutuhan masyarakat.

Wabah kolera dan muntaber telah melanda wilayah Lembah Kamuu, Paniai sejak 6 Apri 2008 dan masih berlangsung hingga saat ini. Data yang dikumpulkan Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Sinode Kingmi hingga tanggal 8 Juli, wabah ini tel ah menelan nyawa sebanyak 156 orang dewasa dan anak-anak. Wabah telah menyebbar di 17 kampung dari 2 distrik di Lembah Kamuu dan 2 kampung dari 1 distrik di Paniai. Lembah Kamuu sekarang termasuk dalam Kabupaten Dogiyai, merupakan pemekaran dari Kabupaten Nabire yang baru diresmikan Mendagri awal Juli ini. Wilayah sebaran tidak lagi terbatas di Kamuu, melai nkan mencapai Paniai. Bila tidak diantisipasi, dapat menyebar ke daerah-daerah lain.

Sangat disayangkan sekalipun wabah itu sudah menyerang masyarakat se lama empat bulan berturut-turut, bahkan sudah tergolong KLB, sampai saat ini tidak ada tindakan nyata dari Pemda Nabire maupun Pemda Provinsi Papua untuk menyelamatkan nyawa warga. Sungguh ironi mengingat Pemda justru sibuk meresmikan wilayah pemekaran da n melantik pejabat buati yang baru. Tiadanya upaya penanganan yang bersifat segera, menyeluruh dan berkelanjutan dari pemerintah telah menyimbulkan frustrasi dan kecurigaan mendalam di masyarakat apabilan wabah ini sengaja disebabrkan dan pemerintah juga s e ngaja membiarkan masyarakat mati dengan kolera. Suasana demikian telah menimbulkan ketegangan antar warga setempat dan mendorong masyarakat melakukan perusakan terhadap rumah milik sejumlah warga pendatang yang dicurigai berhubuhngan dengan menyebarnya wa bah tersebut.

Gereja-geraja telah melakukan penanganan medis misalnya Keuskupan Timika menerjunkan Tim Medis Yayasan Caritas Timika. Akan tetapi, karena keterbatasan kemampuan personel dan biaya maka layanan ini tentu tidak mampu menjawab kebutuhan di lapa ngan.
Berdasarkan fakta ini, kami menyatakan keprihatinan kami dengan meminta kepada Gubernur, MRP, dan DPRP agar:

  • Mengambil Langkah segera dengan mengirimkan tim medis ke lapangan untuk melakukan pengobatan bagi masyarakat yang menderita.
  • Melakukan pencegahan sesegera mungkin agar wabah tidak menyebar ke wilayah lain.
  • Menyelidiki mendalam tentang penyebab sesungguhnya dari wabah kolera ini dan hasilnya diumumkan kepada masyarakat luas agar dapat menghentikan segala praduga dan kecemasan yang sedang berkembang
  • Melakukan tindakan pemulihan atas segala dampak buruk baik fisik, mental, dan sosial yang ditimbulkan oleh wabah tersebut
  • tidak menyibukkan diri dengan pemekaran dan jabatan politik semata, melainkan memberikan pelayanan kesehatan bermu tu seperti diperintahkan pasal 59 UU No.21/2001 tentang Otsus dan sistem kesehatan pangan yang mendukung terjaminnya gizi yang baik  

Kepada masyarakat:

  • Kami menyerukan kepada masyarakat di lembah Kamuu yang sedang menderita dan seluruh masyarakat di Pan iai agar melakukan upaya-upaya pencegahan secara mandiri, dengan merebus aair sebelum diminum dan menjaga sanitasi lingkungan
  • Agar kritis terhadap informasi yang tersebar sehingga tidak terpancing melakukan tindak anarkis.
  • Melaporkan setiap informasi kepada pemimpin agama setempat, dan aparat pemerintah serta polisi.

     

http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/28/12580680/156.warga.lembah.kamuu.dogiyai.meninggal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: