Bus Masuk Jurang Akibat Rem Blong, Tujuh Tewas

 

Thursday, 07 August 2008

BANGKAI BUS, Dua petugas Polres Cianjur mengindentifikasi bangkai bus Karunia Bakti yang terjun ke jurang sedalam 10 meter di Kampung Pos, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kemarin.

CIANJUR (SINDO) – Sebuah kecelakaan tragis terjadi di Cianjur kemarin. Akibat rem blong,penumpang bus Karunia Bakti jurusan Jakarta– Tasikmalaya terjun ke jurang. Bus yang mengangkut sekitar 43 penumpang tersebut terjun ke jurang berkedalaman sekitar 10 meter di Jalan Raya Cugenang-Cipanas,tepatnya di Kampung Pos, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang,Kabupaten Cianjur.

Tujuh penumpang di antaranya tewas seketika, sementara puluhan penumpang lain mengalami luka berat dan ringan. Dari tujuh korban meninggal, enam di antaranya sudah berhasil diidentifikasi tim medis dan kerabat korban. Keenam korban tersebut yakni Nani Suryani, warga Taman Puri Lestari RT 02/03, Desa Bojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur; Nolis, 37,warga Pongkolan, Desa Sukamanah, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Cianjur; Topan, 26, kondektur bus, warga Garut; Salim Sambas, 45, kondektur bus, warga Bandung; Elin, 23,warga Cugenang; dan Eman S, 64,warga Ciranjang, Kabupaten Cianjur.

Hingga kemarin sore, seorang korban lain belum bisa dikenali karena sebagian tubuhnya terpotong-potong. Sementara itu, enam korban luka berat yang dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung adalah Khadijah,61,warga Bekasi; Dana, 23; Abdurrahim, 70,warga Serpong, Tangerang; Jajay, 5; Kartawan, 43, warga Cibeber, Cianjur; dan Pahan, 21,warga Sukanagara,Cianjur.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun SINDO, bus bernomor polisi Z 7691 DA yang melaju dari arah Jakarta menuju Cianjur itu masuk jurang sekitar pukul 10.30 WIB. Bus itu dikemudikan Erlan bin Radiman,43,warga Perumahan Cempaka RT 02/16, Desa Lebak Jaya, Kecamatan Karang Pawitan,Kabupaten Garut.

Dari pantauan di lokasi kejadian, kondisi bus tertahan jembatan di bawah jurang dekat lokasi bekas kolam renang Tapal Kuda, Cugenang. Sesaat setelah kecelakaan, puluhan petugas dari TNI dan Polres Cianjur mengevakuasi sejumlah korban tewas yang terjepit badan bus.

Salah seorang penumpang yang berhasil selamat dan hanya mengalami luka ringan di kepala,Sugandi,54,warga Cibeber RT 07/03, Desa Cihaur, Kabupaten Cianjur, mengatakan sebelum masuk jurang, rem bus blong dan tidak berfungsi. Akibatnya, bus tersebut tidak bisa dikendalikan. Ketika bus mulai oleng, para penumpang berteriak histeris. Bangku-bangku beterbangan begitu bus menghantam jurang.

“Sopir bus sudah memperingatkan penumpang agar menyelamatkan diri sebelum bus masuk jurang. Bus tersebut oleng ke kiri terlebih dahulu, kemudian masuk jurang,”kata Sugandi. Dia menambahkan, laju kendaraan sebelum masuk jurang tidak terlalu kencang. Sugandi yang saat itu duduk di barisan tengah menuturkan, korban tewas kebanyakan berada di kursi paling depan.

Menurut penuturan sopir bus, Erlan, sebelumnya rem bus tersebut berfungsi dengan baik.Rem baru mulai terasa tidak berfungsi sekitar satu kilometer atau dua tikungan sebelum tempat kejadian perkara, kurang lebih lima menit sebelum kejadian. Erlan mengakui di daerah tersebut ada jurang yang curam. Karena itu, dia terpaksa menabrak tiang pembatas dengan papan reklame di atasnya. Dia berharap dengan tabrakan tersebut, bus dapat berhenti.

“Ketika terasa rem tidak berfungsi,saya segera menginformasikan kepada para penumpang bahwa rem blong. Setelah itu, sepanjang jalan saya mencari tempat untuk memberhentikan bus,tetapi tidak ada.Melewati dua tikungan, saya baru menemukan tempat itu, karena di sekitar itu ada pembatas jalan. Saya kira akan berhenti, tapi akhirnya bablas,” kata Erlan di Polres Cianjur kemarin.

Dia menjelaskan,sebelum berangkat,bus itu telah diperiksa dan hasilnya normal. Bus mulai berangkat dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur sekitar pukul 07.00 WIB.Dia juga tidak merasakan keanehan sepanjang perjalanan,bus yang dikemudikannya berjalan normal. Selama perjalanan, saya tidak merasa ada apa-apa pada mesin, dan bus yang saya kemudikan juga berjalan dengan pelan.Tapi kenapa tibatiba rem blong,”ungkapnya.

Erlan langsung diamankan pihak Polres Cianjur untuk dimintai keterangannya terkait kecelakaan tersebut. “Hingga kini kami masih melakukan penyelidikan dan belum menetapkan tersangka dalam kasus kecelakaan tersebut,” kata Kepala Bagian Operasional Polres Cianjur Kompol Apriyanto di lokasi kejadian kemarin.

Hingga kemarin, satu orang di antara tujuh korban tewas yaitu Nolis, sudah dibawa pulang keluarganya. Sementara korban lain masih berada di kamar mayat RSUD Cianjur. Koordinator Karunia Bakti Perwakilan Cianjur Yana Mulyana mengatakan, pihak perusahaan akan bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Dua jasad awak bus yang tewas dalam kejadian itu pun akan segera dikirimkan kepada pihak keluarganya.

“Ya, ini musibah. Jelas, kami akan ikut membantu biaya kepada para penumpang, berupa pengobatan bagi korban luka ringan dan berat serta santunan bagi penumpang yang meninggal dunia, termasuk dua awak bus kami,”ujar Yana.

Dia juga menampik bahwa bus berada dalam kondisi tidak laik jalan.Menurut Yana, seperti prosedur yang selalu diterapkan pihak perusahaan, bus selalu menjalani pengecekan ulang sebelum dioperasikan. “Bus tersebut buatan 1998. Kalau dibilang layak jalan, jelas masih layak,” imbuhnya.Menurut dia,kejadian tersebut merupakan kecelakaan terparah sepanjang sejarah catatan perusahaan.

Perlu Audit Operator

Menanggapi kecelakaan tragis di Cianjur,Ketua Pusat Kajian Transportasi Universitas Indonesia (UI) Sutanto Suhodo mengatakan perlu ada audit terhadap operator bus yang selama ini belum diatur. Dengan audit keamanan dan keselamatan, penyebab utama kecelakaan akan diketahui.

“Dengan audit, kita akan mengetahui di mana letak kelalaiannya, apakah dalam perawatan atau kir,” tandasnya. Sutanto menyadari bahwa banyak operator bus yang “bermain” dalam melakukan uji kelayakan kendaraan. Padahal, kondisi kendaraan memiliki peran penting dalam keselamatan para penumpang.

“Kita tidak perlu menutup mata bahwa banyak operator bus yang melakukan uji kir tidak sesuai dengan ketentuan, misalnya mengganti ban yang sudah gundul hanya saat uji kir,” katanya. Bagi mereka yang melanggar, ujar dia, perlu dikenai sanksi dengan hukuman yang berat. Dengan begitu, ada yang bertanggung jawab terhadap kecelakaan yang terjadi.

“Sanksinya bisa bersifat finansial maupun nonfinansial, seperti pencabutan izin operasi,”jelasnya. Dengan sanksi itu, diharapkan ada efek jera dan operator bus melakukan kontrol ketat terhadap setiap kendaraan yang akan beroperasi. Sutanto menambahkan, peran sopir juga sangat penting mengingat pengemudi biasanya sangat mengetahui kondisi kendaraan yang akan digunakan.”Jika sopir mengetahui kendaraannya tidak layak,dia memiliki hak untuk komplain dan operator harus mengikutinya,”jelasnya.

Selain faktor di atas, kata Sutanto,kontrol dari penumpang juga diperlukan.Sebab, dengan adanya pengawasan dari penumpang maka ada kepedulian untuk bersamasama menjaga keamanan. “Penumpang juga berhak melakukan komplain jika kendaraan yang akan digunakan tidak layak,”tambahnya.

Terkait kecelakaan tersebut, Sutanto mengatakan harus ada yang bertanggung jawab, apakah pemerintah, operator bus atau sopir. Ke depan, kata dia, setiap pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan minimal pada segi keselamatan. “Dengan demikian, ada jaminan keselamatan terhadap para penumpang,”tegasnya. (ricky susan/ sucipto)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/bus-masuk-jurang-akibat-rem-blong-tujuh.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: