Nazar Meninggal Saat Ayahnya Cari Utangan

Jumat, 8 Agustus 2008 | 13:32 WIB

KESEDIHAN masih terpancar di wajah Nurhayati (28). Sesekali dia mengusap air mata di wajahnya. Wanita itu masih mengenang anaknya, Nazar (2 bulan), yang meninggal di Puskesmas Barabaraya, Makassar, Rabu (6/8).
 
“Saya sulit bicara. Saya juga tidak tahu harus bagaimana lagi setelah kejadian ini,” kata Nurhayati di rumah keluarganya, Asrama Barabaraya, Jl Abubakar Lambogo, Makassar, Kamis petang.

Nazar meninggal diduga karena terlambat mendapat penanganan kesehatan di Puskesmas Barabaraya, Makassar. Bayi mungil itu tak tertolong setelah kejang-kejang dengan suhu tubuh yang terus meninggi.

“Kalau ingat kajadian itu (Nazar meninggal), saya langsung emosi. Saya betul-betul trauma karena bayi saya terlambat ditolong,” kata ibu enam anak ini.

Dia menceritakan, pada Rabu dini hari, suhu tubuh Nazar terus naik atau demam tinggi. Dia pun mulai panik, tapi tak bisa berbuat apa-apa kecuali memutuskan ke Puskesmas Barabaraya seusai shalat subuh.

Sekitar pukul 05.30 wita, sang ayah, Syafaruddin, ke puskesmas mengambil nomor antrean dengan harapan bisa dilayani paling pertama. Nurhayati dan Nazar baru menyusul sekitar pukul 07.00. Saat tiba di puskesmas, Nurhayati menanyakan dokter ahli anak.

Namun, petugas mengatakan, dokter anak masih dalam perjalanan dan yang sudah berada di puskesmas adalah dokter umum. Seorang petugas mengatakan, bila ingin dilayani dokter anak, dia harus membayar Rp 20.000 sebagai jasa medis. Ingin memberikan yang terbaik bagi buah hatinya, Nurhayati meminta suaminya mencari pinjaman.

Dengan tergesa-gesa, Syafar pun kembali ke rumah dan mencari pinjaman ke beberapa kerabatnya. Namun, belum sempat mendapat pinjaman, Syafaruddin mendapat kabar Nazar sudah meninggal.

Sebelum meninggal, Nazar tiba-tiba menangis keras dan kejang-kejang. Nurhayati panik dan langsung menerobos pintu ruangan poli umum. Dokter yang bertugas saat itu, dr Nadjib, meminta dilakukan pemeriksaan laboratorium. Namun, saat berada di laboratorium kondisi Nazar sudah kritis sehingga dilarikan ke ruang UGD.

“Saya tidak ingat lagi apakah anak saya meninggal saat dalam perjalanan dari laboratorium ke UGD atau saat tiba di UGD. Waktu itu saya tidak bisa lagi berpikir,” ujarnya terisak.

Nurhayati dan suaminya menumpang di rumah orangtua Nurhayati. Mereka tinggal berimpitan di dalam rumah berukuran sekitar 5 x 7 meter.

Ada 11 orang yang tinggal di dalam rumah itu, termasuk pasangan Syafaruddin-Nurhayati bersama empat anaknya. Putri sulung pasangan ini, Rara, ikut dengan paman dan tantenya di Palu, Sulawesi Tengah. Rara sudah duduk di bangku SMP. Empat adik Rara masih kecil, rata-rata dua tahun sampai 10 tahun.

Untuk menghidupi keluarganya, Syafaruddin bekerja serabutan, termasuk membantu menambal ban dengan penghasilan Rp 10.000-Rp 20.000 per hari.

Statusnya sebagai pimpinan partai di tingkat ranting tidak banyak membantu menopang kehidupan keluarganya. Pria asal Selayar ini pun harus membanting tulang untuk mencari nafkah. “Kalau saya hanya bisa ikhlas dengan musibah ini. Sebagai umat Muslim, saya harus percaya bahwa Allah SWT memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan umatnya. Mungkin ada hikmah dari kejadian ini,” kata Syafaruddin. (Tribun Timur)

http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/08/13320179/nazar.meninggal.saat.ayahnya.cari.utangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: