Penyair Terkenal Palestina Mahmud Darwish Meninggal

Minggu, 10 Agustus 2008 10:50 WIB

WASHINGTON–MI: Mahmud Darwish, yang dianggap secara luas sebagai salah satu penyair terbesar Palestina, meninggal dunia Sabtu di sebuah rumah sakit AS menyusul operasi jantung-terbuka, kata pejabat rumah sakit.

“Darwish meninggal pukul 13.35 waktu setempat (Minggu pukul 1.35 WIB),” Ann Brimberry, seorang jurubicara Memorial Hermann Hospital di Houston, Texas, tempat ia (Darwish) dirawat, mengatakan.

Penulis berusia 67 tahun itu dipasangi alat bantuan hidup dua hari lalu menyusul komplikasi yang meningkat akibat operasi, seorang teman mengatakan di Jerusalem sebelumnya, minta untuk tidak disebutkan namanya.

Darwish telah mempublikasikan lebih dari 24 buku syair dan prosa yang berakar pada pengalamannya sebagai pengasingan Palestina dan konflik sengit Timur Tengah, selama karir yang merentang hampir lima dasawarsa.

Dianggap secara luas sebagai salah satu penyair terbesar dunia Arab, Darwish menjadi pengecam keras Israel selama bertahun-tahun dan ditahan beberapa kali pada 1960-an sebelum pergi ke pengasingan atas kemauannya sendiri pada 1970.

Selama 25 tahun Darwish mengembara dari satu tempat ke temat yang lain, menghabiskan waktu di beberapa ibukota Arab dan dengan singkat tinggal di Moskow dan Paris.

Ia telah menerima sejumlah penghargaan kesusasteraan selama karirnya, termasuk Ibnu Sina Prize, Lenin Peace Prize, Lotus Prize 1969 dari Perhimpuan Penulis Afro-Asia, medali Knight of Arts dan Belles Lettres Perancis pada 1997, Penghargaan untuk Kebebasan Kebudayaan dari Yayasan Lannan 2001, dan Moroccan Wissam of intellectual merit yang diserahkan padanya oleh Raja Mohammad VI dari Maroko, menurut Akademi Penyair Amerika.

“Darwish adalah nafas esensial rakyat Palestina, saksi pengungsian dan kepemilikannya yang fasih berbicara,” penyair Naomi Shihab pernah mengatakan tentang dia.

Lahir pada 1941 di sebuah desa Arab di tempat yang sekarang adalah Israel utara, Darwish dan keluarganya diusir dalam perang 1948 yang diikuti dengan pembentukan negara Yahudi itu, meskipun mereka kembali ke Israel beberapa tahun kemudian.

Satu rangkaian prosa puitis yang ditulis mengenai pengalamannya tinggal di Beirut pada saat serangan Israel dan pembombardiran Libanon pada 1982 telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 1995 dengan judul “Memory for Forgetfulness”.

Pada 1988 ia menulis pernyataan resmi kemerdekaan Palestina dan mengabdi di komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) hingga 1993, ketika ia mundur sebagai protes atas perjanjian otonomi Oslo.

Ia tinggal di kota Ramallah di Tepi Barat sejak 1995.

Pada tahun 2000, satu usulan ketika itu oleh menteri pendidikan Israel Yossi Sarid untuk mengajarkan karya Darwish di sekolah umum telah memicu badai politik dan menyebabkan oposisi sayap-kanan untuk mendaftarkan mosi tidak percaya pada pemerintah. (Ant/OL-01)

http://mediaindonesia.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: