Lari dari Neraka Pertempuran

AP/Musa Sadulayev

Seorang ibu mendekap dan berusaha menenangkan anaknya, saat naik mobil menembus desingan peluru dekat Dzhava, Ossetia Selatan, menuju tempat aman untuk mengungsi, Minggu (10/8).

Gemuruh alat-alat perang, dari ledakan granat, bom hingga senjata otomatis membuat suasana kota ibarat neraka. Karena itu, tanpa berpikir panjang lagi ratusan orang di ibukota Ossetia Selatan, Tskhinvali, cepat-cepat keluar dan mencari perlindungan tanpa peduli lagi rumah dan harta benda yang ditinggalkan.

Ratusan pengungsi dari Ossetia Selatan berusaha mencari tempat aman entah di Georgia atau Rusia. Mereka menuturkan harus melewati mayat-mayat bergelimpangan, mendaki berjam-jam dan bersembunyi di hutan-hutan. Marina Dudayeva yang berusia 20 tahun meninggalkan Tskhinvali, hanya mengenakan baju tidur dan sandal jepit. Ia lega bisa sampai di areal kamping dekat Alagir, perbatasan Ossetia Selatan dan Ossetia Utara yang masuk Rusia. Penduduk di Ossetia bagian utara ataupun selatan sebagian besar etnis Ossetia. Mereka punya hubungan kultural yang erat dan umumnya punya pertalian keluarga.

Dudayeva menuturkan ia tidak tahu kondisi ke- luarganya yang lain termasuk adik lelakinya. “Kami tidak bisa mengontak dia,” tuturnya dalam kondisi shock. Ribuan warga yan mengungsi rata-rata mengaku sangat terkejut dengan situasi ini. Mereka terlihat sangat penat. “Tentara Georgia membakar rumah-rumah kami,” tutur seorang nenek.

Ia mengaku bingung dengan situasi ini. “Orang Georgia bilang ini tanah mereka. Lalu tanah kami di mana?” Ossetia Selatan memisahkan diri dari Georgia pada awal 1990-an dan membangun hubungan yang erat dengan Rusia. Sementara Georgia tetap merasa Ossetia Selatan sebagai bagiannya.

Setelah serangan Georgia ke Tskhinvali, diperkirakan banyak warga Ossetia Selatan yang awalnya mendukung penyatuan dengan Georgia, akan berbalik lebih memilih bersatu dengan Rusia. “Kalau kami menjadi bagian Rusia, saya kira kami akan lebih baik,” tutur Zema Kulumbegova (43) yang mengungsi bersama tiga putrinya.

Pada awalnya keluarga Kulumbegova bersembunyi di ruang bawah tanah tempat penyimpanan anggur. Tapi, sejak Jumat pagi pertempuran menjadi sengit, sebuah roket menghantam rumah tetangganya. Karena itu, ia memilih pergi dari situ bersama anak-anak. Suami dan ayahnya yang berusia 90 tahun memilih tetap di Ossetia.

Kulumbegova dan anak-anaknya sempat dikejar tentara Georgia ketika kabur dengan mobil. Mereka memasuki hutan dan terus berlari sampai tiba di sebuah desa. Di sana ada bus yang membantu warga yang mau mengungsi. Mereka dibawa ke wilayah Pegunungan Kaukasus lalu memasuki wilayah Rusia.

Ratusan pengungsi bergerombol di Vladikavkaz, ibu kota Ossetia Utara dan menunggu dikirim ke Anapa, kota wisata dekat Laut Hitam.

Diperkirakan sekitar 40.000 orang terpaksa meninggalkan rumah dan harta benda mereka untuk mencari perlindungan dari peperangan di Ossetia Selatan dan Georgia.

Menurut Juru Bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Maia Kardava berdasarkan data yang diberikan pihak Rusia ada 30.000 orang yang mengungsi dari Ossetia Selatan menuju Rusia, sementara di dalam Georgia ada lebih 10.000 orang.

Pertempuran hebat yang memprihatinkan dunia ini merenggut nyawa dua jurnalis dan melukai empat jurnalis yang dalam perjalanan untuk meliput konflik antara Rusia dan Georgia. [AP/AFP/Y-2]

Last modified: 11/8/08

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/11/index.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: