Stres, Anak Kandung Tewas Digantung

Senin, 11 Agustus 2008 | 21:28 WIB

PEKALONGAN, SENIN- M Teguh Santosa (38) ternyata tak seteguh dan sekuat namanya. Diduga karena stres, ia tega menggantung anaknya di pohon mangga. Tentu saja Makmur Baharullah (6) tewas. 

Peristiwa tragis yang terjadi Desa Rowo Kembu, Kecematan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Senin (11/8), ini pertama kali diketahui ketika salah seorang warga, Warjo (72).

Saat itu Mbah Warjo bermaksud buang hajat di sawah. Di tengah jalan ia melihat seseorang sedang tidur di bawah pohon mangga. Karena tak ada yang ganjil, ia berlalu begitu saja. Akan tetapi, ketika ia kembali dari buang hajat dan melintas di jalan yang sama, matanya tertumbuk pada sesosok tubuh yang menggantung di pohon mangga, persis di atas Tegun tertidur.

“Semula saya tidak tahu, jika yang tidur di bawah pohon adalah Teguh. Saya semakin terkejut ketika melihat di atas pohon mangga ada anak tergantung dalam kondisi sudah tewas,” katanya.

Warjo kemudian menghubungi tetangga lainnya, yaitu Kusnoto (60) dan melaporkan kasus itu ke Ketua RT 09/ RW 04, Bambang Supriyatin. Saat tiba di lokasi kejadian bersama warga, Teguh Santosa sudah di atas pohon sambil bertiduran.

Ketika didatangi oleh sejumlah warga, Teguh berusaha menjatuhkan diri dari pohon mangga. “Saat ditanya dirinya mengatakan anaknya sudah dibunuh karena dipanggil Tuhan,” katanya.

Petugas yang mendapat laporan dari warga mendatangi lokasi dan mengevakuasi korban yang sudah kaku dan tak bernyawa. “Posisi anak itu terikat dengan sobekan kain sarung di salah satu dahan pohon mangga setinggi sekitar 3,5 meter” kata Ketua RT 09, Bambang.

Jenazah Makmur kemudian diturunkan dan dibawa ke RSUD Kraton untuk divisum, sedangkan tersangka Teguh diamankan di kantor polisi setempat. 

Sering marah-marah

Menurut kakak kandung Teguh bernama Ida, Teguh dalam beberapa hari terakhir memang sering marah-marah dan berkata sendiri seperti orang stres. “Terakhir, adik saya (Teguh Santosa) berbicara sendiri dan marah-marah tentang masalah BLT,” katanya.

Kepala Kepolisian Resor Pekalongan Ajun Komisaris Besar Aan Suhanan melalui Kepala Kepolisian Sektor Wonopringgo Ajun Komisaris Prajoko mengatakan, polisi belum bisa memastikan motif pembunuhan. Namun dari pemeriksaan sementara polisi mencurigai kejiwaan tersangka yang menjawab seenaknya dan terlihat tidak menyesal.

“Kepada penyidik, tersangka mengakui membunuh anaknya karena dia sayang dan ingin mempertemukan anaknya dengan Tuhan,” katanya. 

Sebelum peristiwa itu, tersangka mengaku membawa istrinya, Wiwid (29) dan dua anaknya, yaitu Nurdin (8) dan Makmur Baharullah (6) ke sawah untuk diajak menghadap Tuhan. “Namun tersangka baru sempat membunuh anak bungsunya karena anak sulung dan istrinya minta pulang,” katanya.

http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/11/2128193/stres.anak.kandung.tewas.digantung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: