Satu

  

Sekian lama berlalu semenjak kepergian Muki . Banyak pula hal yang menyadarkanku untuk banyak hal. Terutama yang berhubungan dengan kematian. Namun tetaplah sisi kemanusiaanku yang penuh dengan ketidaksempurnaan melekat. Bukan berarti sekian banyak pelajaran yang kudapat akhirnya merubah aku menjadi seorang yang bijaksana dan bisa menerima semua hal dengan mudah didalam kehidupan ini. Karena ada dua hal yang juga kuyakini selalu menjadi bagian dari perilaku manusia, begitupun pada diriku. ‘Lupa’ dan ‘Malas’. Berapapun besar kecilnya, namun dua hal ini selalu ada setiap saat dalam keseharian kita.

Hari demi hari berjalan dan tanpa terasa bulan depan kaum muslim akan menjalankan perintah rukun Islam yang keempat. Berpuasa pada bulan Ramadhan. Malam itu, aku diingatkan untuk berziarah ke pemakaman Muki sebelum memasuki bulan Ramadhan. Sejenak aku tertegun, entah apa yang membuatku terpaku dan akhirnya kusadari bahwa selama ini, dengan apa yang kujalankan, dengan segala macam cara, untuk dapat menerima kepergian Muki, baik atau tidak, rupanya ada sisi tidak baiknya juga yang pada akhirnya harus aku hadapi. Mungkin saja karena aku terlalu fokus pada hal yang aku pilih sebagai tempat pelampiasan kesedihanku, sehingga hal yang pokok : ‘membangun penerimaan didalam jiwaku” malah terabaikan. Itulah sementara ini yang bisa aku analisa.

Ketika sesaat aku diingatkan untuk berziarah kemakam Muki, sebuah pertanyaan meluncur didalam pikiranku, ‘bisakah aku berziarah dengan hati yang kuat?’. Selepas pertanyaan itupun kesedihanku memuncak. Menekan keras kejantung hingga sesak terasa didadaku. Tak ada keinginan untuk menangis, karena walaupun bagaimana aku harus tetap menjaga kondisi orang-orang disekitarku terutama adik-adik Muki. Namun tak urung pula airmata menetes satu persatu dari ujung mataku. Malam itu, aku mengurung diri didalam kamar kerjaku.

Keputusanku sudah bulat. Pagi harinya,seperti biasa, kuselesaikan semua tugas wajibku hingga tengah hari. Dan lewat tengah hari, kusiapkan semua peralatan musikku yang lebih dari 15 tahun kusembunyikan, bahkan dari Muki. Malam ini akan kubayar semua hutangku pada Muki. Dan satu hal yang cukup mengejutkanku hari itu adalah, sambutan dari teman-teman Muki ketika kuajak mereka bermain bersama. Tanpa satu pertanyaanpun mereka semua menyatakan setuju.

Para pengunjung cukup padat malam itu. Dari belakang panggung kudengar pembawa acara mengumumkan kehadiranku dan teman-teman Muki sebagai bintang tamu. Rencananya aku akan membawakan sebagian besar lagu-lagu Eric Clapton dan beberapa lagu yang sering aku dan Muki berdua mainkan bersama dulu. Muki memang cukup populer di kafe ini, karena dia pernah menjadi salah satu pemain gitar tetap didalam grup band kafe ini. Ketika kusampaikan tujuanku bermain kepada pemilik kafe, sudah tentu dia menyetujuinya. Bahkan aku ditempatkan pada urutan kedua setelah band kafe memainkan beberapa lagu. Susunan lagu kutata sedemikian rupa sehingga merupakan perjalanan kisahku bersama Muki. Dan, inilah saatnya!

Lagu pembuka : ‘More Than Words’

Lagu ini pernah menjadi andalan Muki sejak pertama dia bisa memainkan gitar (kira-kira usia 7 tahun). Lagu ini dipelajarinya secara otodidak dan dari berbagai sumber. Video, CD, Kaset, dan sharing dengan teman-temannya. Pada usia Muki saat itu, hal semacam ini merupakan talenta yang luar biasa, karena Muki hanya mengandalkan telinga dan hatinya. Dari musik yang terpatah-patah hingga penuh dengan modifikasi. Selain itu, pada setiap lagu atau musik yang dipelajarinya aku selalu berusaha menerangkan mengenai makna dan arti. Kukatakan padanya bahwa hal itu sangat penting dalam penjiwaan sebuah musik. Malam itu aku bawakan ‘More Than Words’ secara gitar tunggal. Tanpa banyak merubah dari aslinya. Diawali dengan sedikit penjelasan mengenai Muki dan makna isi lagu tersebut. Sambutan yang hangat membawaku sedikit bersemangat dan sempat mengajak penonton untuk ikut bernyanyi. Seketika, suasana berubah menjadi cukup hangat dan romantis.

%d bloggers like this: