Kembali Pada (Kematian?)

 

 

Setelah sekian lama menjalani kehidupan didunia , ada hal yang begitu menggelitik dibenakku belakangan ini. Entah hal ini terjadi karena perjalanan kehidupan atau memang datang dari karakter diri. Karena dua hal diatas mempunyai sifat perubahan tiap saat. Yang, tentu saja, tidak dapat dihindari. Apalagi, selama waktu masih terus bergulir mendampingi, artinya, tentu tidak akan berhenti juga gerak perubahan tersebut.

 

Hampir satu bulan blog ini aku biarkan mengalir hanya dengan berita-berita kematian. Tanpa ulasan atau sanggahan. Dari aliran berita-berita kematian inipun tidak sedikit yang singgah dibenakku. Bukan hanya soal kematian itu sendiri, namun lebih pada prosesnya kehidupan menuju kematian. Ketika mengamati sebuah obituari, disana ada dunia lain yang juga penuh kisah, perubahan, proses dan sebuah akhir. Sekian banyak berita dan obituari, tidak pernah ada yang sama, itulah kisah dalam kehidupan.

 

Mungkin belum, namun bagiku cukuplah sebulan ini untuk dapat mengungkapkan gelitik benak. Bukan jenuh, hanya jumlah yang tertelan sudah diluar batas kuota, istilah yang baru saja melintas dipikiranku. Seperti pada umumnya kejadian reaksi terhadap aksi, begitupun keberadaan positif dan negatif, reaksi diriku adalah mengharapkan keterbalikan dari semua yang pernah singgah dibenak. Begitu rumit semua hal jika diamati, kemudian ada satu kaya yang hinggap, “kesederhanaan”. Ini bukan tidak mungkin menjadi rumit juga. Namun sesuai dengan makna kata tersebut, maka mudah-mudahan tidak akan menjadi rumit nantinya.

 

Sederhana; bagiku ini berarti sesuatu hal yang mendasar, tanpa ada tambahan apapun. Murni. Walaupun aku yakin masih banyak pendapat lain dan bisa jadi tidak sejalan dalam makna. Dari satu kata ini ada pertanyaan yang bisa mengembangkan pendapat siapapun. Bagaimana kembali kepada kesederhanaan? Kembali kepada sesuatu yang mendasar. Dalam hal apapun, tanpa kecuali.

 

2 Responses to “Kembali Pada (Kematian?)”

  1. mati hidup … bukan seperti 2 sisi mata uang
    tapi sesuatu yang sangat erat
    habis hidup ya mati
    lalu habis mati apa diteruskan dengan hidup ?
    ……
    (akan berulang ? IYA sampai HAMPA, lalu ? KEKAL ….. let’s talk about)

  2. forthesakeofneverendinglove Says:

    … bahkan kitapun tak pernah tahu, apakah kita akan berbicara pada saat mati?, setelah mati?. Anggaplah “akan berbicara”, pada saat mati atau setelah mati; padahal kisah orang mati yang berbicara setelah matipun “secara nyata dan benar”, adakah? Lantas berbicara soal mati itu apa? Untuk apa? Mengapa harus dibicarakan? Bagaimana cara membicarakan? “Mati adalah urusanKu” begitulah Penguasa Kematian menyatakan. Artinya bukan lagi urusan kita. Mungkin lebih dari MENGERTI, MEMAHAMI, MENERIMA dan MENYIAPKAN diri kita pada kematian yang menjadi bagian (akhir?) dari hidup kita …, semoga …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: